02-Hiro. ON Saturday, February 16, 2013 AT 7:09 AM
Hujan
deras. Mengguyur bumi. Menyuburkan tanah dan tanaman. Menyebabkan hawa dingin.
Sedingin perasaan Shiemi yang pilu. Kematian. Kenyataan yang tidak bisa
diubah. Memikirkannya membuat tubuh Shiemi serasa diselimuti oleh hawa dingin.
Shiemi
duduk, berpangku tangan, di depan gedung asrama. Dia memandang lurus ke depan,
dengan tatapan kosong. Dia tidak tahu harus memasang ekspresi seperti apa di
saat seperti ini. Shiemi terus duduk tanpa bergerak sedikitpun. Meski dia bisa
mendengar suara langkah kaki di belakangnya.
“Hei,
Shiemi.” Mai duduk di sebelah Shiemi. Dia menutup payung birunya yang basah
terkena guyuran air hujan. “Enggak ke pemakaman?”
Shiemi
terdiam. Menggelengkan kepalanya pelan.
Mai
tersenyum. “Masih terpukul, ya?” tanyanya. “Aku .. tidak begitu dekat dengan
Mayu, jadi tidak tahu bagaimana rasanya kehilangannya. Menurutku dia sangat
pintar. Selalu ceria. Disayang guru. Meski kadang dia sering usil dan melanggar
peraturan sekolah.”
Shiemi
masih terdiam.
“Seandainya
aku jadi kau, mungkin aku akan tahu rasanya,” hibur Mai. “Perasaan bagaimana kehilangan
seorang sahabat baik. Kau juga pasti tahu, semua orang akan menjumpai yang
namanya kematian.”
Dia
malah berceramah, pikir Shiemi. Perkataannya
benar juga. Tapi, aku sedang tidak
senang diajak bicara. Ingin menyendiri saja.Tiba-tiba, Shiemi teringat soal
kejadian dua hari yang lalu. Jalan menuju puncak gedung sekolah.
Dia
juga teringat akan dugaannya bahwa Mayu memang bunuh diri. Tapi, apakah pikiran itu tidak terlalu kejam? Batin Shiemi sedih. Beraninya aku berpikir bahwa Mayu bunuh
diri. Dia anak baik-baik. Tak mungkin melakukan hal yang aneh seperti itu!
“Mau
ke mana, Shiemi?” Mai kaget melihat Shiemi yang bangkit dari duduknya. Dia
menatap sekeliling, menyadari bahwa suasana begitu sunyi. “Hei, hujan sudah
reda, rupanya.”
“Maaf.”
Shiemi melangkah maju. “Aku ada urusan penting.” Dia berlari menapaki jalan
beraspal yang becek, menuju gedung sekolah yang letaknya sejauh 50 meter dari
gedung asrama. Dia menghampiri tangga dan menaikinya. Menapaki satu demi satu
anak tangga, menuju puncak gedung dengan bersemangat.
“Kalau
benar bunuh diri, mungkin Mayu meninggalkan surat kematian,” pikiran Shiemi
mulai melayang kemana-mana. “Seperti yang ada dalam komik atau novel-novel yang
kubaca.”
Shiemi
menaiki anak tangga terakhirnya dan berbelok ke kanan. Dia membuka pintu
gudang, memastikan tak ada siapa-siapa di sana.
Brak!
Shiemi
merasa kalau ia menjerit pelan. Dilihatnya sudut ruangan, sebuah ember jatuh
berdebam ke lantai. Muncul seekor kucing, melompati meja-meja yang berjejer di sepanjang
ruangan. Kelihatannya mengejar seekor tikus.
“Hanya
kucing,” desah Shiemi kesal. Dia membuka jendela gudang, menaikinya dengan
hati-hati, lalu melompat turun. Lapangan puncak gedung terlihat dingin dan
basah. Shiemi berjingkat dengan hati-hati, bersandar pada tembok pembatas.
Shiemi melihat sekeliling, sama sekali tak ada kertas apa pun. Tidak ada pesan
kematian atau apalah. Dia menghela nafas panjang. Berarti Mayu tidak …
“Sedang
apa?” Seseorang menepuk pundak Shiemi pelan. Shiemi tersentak kaget dan
berbalik. Dilihatnya seorang lelaki yang sangat tinggi—melebihi tingginya,
dengan rambut hitam kebiruan dan mata yang berwarna biru samudera. Shiemi
merasa kalau dia pernah melihat lelaki itu. Dia
lelaki dari kelas sebelah, pikirnya.
“Hei,
kenapa diam. Haah~” Lelaki itu menggaruk-garuk kepalanya, membuat Shiemi
kembali teringat akan Mayu.
“Aku
tidak sedang melakukan apa-apa!” Shiemi menepak tangan sang lelaki yang masih
menempel di pundaknya. “Kau sendiri sedang apa. Siapa kau. Mengapa bisa ada di
sini.”
Lelaki
itu terlihat membersihkan kedua telinganya dengan jari telunjuknya. “Heh?
Seharusnya aku yang bertanya begitu. Kau sendiri, mengapa bisa berada di sini.
Sendirian, lagi.”
Shiemi
menghela nafas. “Aku tidak tahu. Aku sedang ingin menyendiri.”
“Kenapa
di sini?”
“Karena
ini tempat terakhir aku bertemu
sahabatku, Mayu.”
“Siapa
Mayu?”
“Ch.
Sahabatku, dia sudah meninggal.”
Lelaki
itu terlihat berpikir sejenak. “Oh, Mayu. Cewek 7H yang meninggal jatuh itu,
ya? Kudengar, dia adalah cewek yang pintar. Tapi usil sekali. Menurutku dia
tipe cewek jelek. Jadi dia sahabatmu, ya, Gadis Kecil.”
“Mayu
tidak jelek!” kilah Shiemi kesal. “Siapa kau, beraninya menyebutku begitu.”
“Eeh?
Aku?” tanya lelaki itu sambil tertawa. “Mau taju saja, atau sangat ingin tahu?”
“Sudahlah,
susah sekali bicara denganmu,” ujar Shiemi. “Aku ingin sendiri. Pergilah.”
“Eeeh,
tidak usah ngambek begitu.” Lelaki itu terkekeh. “Namaku Hiro, dari kelas 7I. Tadi,
aku berada di gudang dan melihatmu, makanya aku sembunyi. Tapi, ember sialan
itu malah jatuh, untung kau tak melihatku. Kuikuti saja kau kemari. Siapa
namamu?”
Akhirnya
Shiemi berani berbalik. “Oh, jadi yang menjatuhkannya adalah kau? Hmm, baiklah,
aku Shiemi Akazawa. Panggil aku Shiemi. Aku murid kelas 7H. Salam kenal.” Dia
mengulurkan tangannya, disambut jabatan tangan pelan dari Hiro.
“Kalau
kupikir, kau cantik juga,” kata Hiro
dengan ekspresi menjijikkan. “Apalagi kalau tersenyum. Jangan cemberut begitu,
dong—hei.”
“Dasar
cowok mata keranjang!” Shiemi merengut sebal, melangkan wajahnya dari Hiro.
Baru kenal saja sudah bersikap begitu. Menjijikkan. “Pergi, sana. Biarkan aku
sendirian, bersandar dengan tenang di sini.”
“Ha-ha-ha.
Gadis Kecil, tidak perlu marah begitu. Aku ingin tetap di sini. Ini tempat
favoritku.” Hiro tertawa. “Aku ingin tahu tentang dirimu. Dan sahabatmu, Si
Mayu itu. Kenapa dia bisa meninggal?”
Shiemi
menjambak rambutnya sendiri. Kepalanya terasa sangat pusing memikirkan Mayu.
Ingin rasanya dia melupakan hal itu. “Aku … Bukankah kau juga sudah tahu.
Katanya, dia jatuh dari gedung sekolah, pendarahan di kepala, pembuluh darah …
Gegar otak … Begitulah.”
Hiro
menatap Shiemi dengan pandangan aneh, terlihat sangat prihatin. Dia mendekati
Shiemi dan merangkulnya. “Itu mengerikan. Aku turut berduka cita, maaf karena
telah bertanya begitu.”
“Tidak
apa-apa, tapi tidak bisakah kau lepaskan rangkulanmu itu.” Shiemi merasa gugup.
Hiro
terdiam sejenak. “Kau tahu, kan, apa yang biasanya dilakukan oleh cewek dan
cowok jika sedang berduaan?”
“Apa
maksudmu?” Shiemi mendelik dengan tatapan curiga.
“Yah
… Yang cewek dan cowok lakukan saat sedang berduaan itu, biasanya ..
Berciuman,” jawab Hiro tenang.
“Apa?
Jadi, maksudmu, aku harus berciuman denganmu?!” pekik Shiemi kaget, meloncat
mundur—menjauhi Hiro yang tertawa terbahak-bahak.
“A-ha-ha.
Gadis Kecil, aku hanya bercanda,” tawanya. “Aku baru kenal kau, jadi tidak
mungkin hal aneh seperti itu kulakukan padamu. Hahaha.” Shiemi masih menjaga
jaraknya, sepertinya otaknya dapat berpikir jauh lebih cepat. Dia berjalan
cepat menghampiri jendela gudang dan menaikinya. Dia bisa mendengar derap
langkah kaki Hiro yang mengejarnya.
“Cowok
sialan!” rutuk Shiemi, berlari kecil menuruni tangga. Hiro berlari di
belakangnya, berhasil menarik tangan Shiemi.
“Hei,
kenapa langsung pergi …?” Hiro menggerutu.
“Memangnya
kenapa?” bentak Shiemi tak peduli. “Urusanku denganmu sudah selesai. Sekarang,
aku sedang berduka untuk sahabatku. Biarkan aku tenang, aku sedang sedih.”
Perlahan-lahan,
Hiro melepaskan genggamannya. “Maafkan aku,” ujarnya. “Kurasa aku mengganggu.”
“Tidak
juga.” Shiemi kembali menuruni tangga. “Aku mau ke asrama. Sampai jumpa besok.”
Hiro diam, memerhatikan Shiemi yang menyusuri tangga. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
01-Mayu. ON AT 1:03 AM
“A—Apa?”
Detak jantung Shiemi serasa berhenti selama sedetik. “Tolong—Ulangi sekali
lagi.” Digenggamnya tangan kakaknya yang terus menariknya, membawanya keluar
dari keramaian orang-orang yang berlalu-lalang di tengah pasar.
“Kubilang,
Mayu meninggal. Apa kau tidak dengar?” Suara lawan bicara Shiemi—Mai—di
telepon, terdengar samar. “Halo, Shiemi?
Kau masih di sana?”
Shiemi
terus berjalan, tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Masa, sih. Enggak mungkin, enggak mungkin.
Dua hari yang lalu dia sehat-sehat saja, batin Shiemi dengan panik.
“Shiemi ..?”
“Ah,
iya,” ujar Shiemi—kembali berfokus pada omongan Mai. “Aku masih di sini.”
“Baguslah. Kemarin, Mayu ditemukan di
lapangan. Mengerikan!” ujar Mai panas. “Katanya,
dia jatuh dari atas gedung sekolah. Yah, begitulah apa yang kudengar. Sebaiknya
kau segera kembali ke sekolah.”
Dan
yang didapat Shiemi hanya pandangan kosong. Dia dan kakaknya berjalan mencapai
lapangan parkir. Shiemi membuka pintu mobil pelan, lalu masuk dan menyandarkan
tubuhnya di bangku mobil. Mengambil nafas dalam, dan membuangnya. Diingatnya
suatu hal yang dilakukan Mayu dua hari yang lalu. Pikiran itu terus berputar
dalam benaknya. Mayu, Mayu dan Mayu.
Apakah ini kenyataan? Pikir Shiemi. Tidak! Ini pasti mimpi.
Enggak
mungkin Mayu meninggal.
***
Dua hari sebelumnya.
“Kau
tahu, Shiemi?” Mayu membuka jendela gudang,
menaiki kursi dan keluar melalui jendela. “Di sini, pemandangannya
sangat indah.” Dia membantu Shiemi melompati jendela.
Shiemi
memandang sekelilingnya dengan wajah kagum. “Wow. Aku baru menyadari kalau ada
tempat seperti ini di gedung sekolah.”
Mayu
tersenyum usil. “Kurasa ini bekas lapangan basket. Satu-satunya akses menuju
tempat ini hanya melalui jendela gudang.” Ditunjuknya sekeliling. Sebuah
lapangan luas di puncak gedung sekolah mereka.
“Bukankah
ini lantai lima?” Shiemi menatap ke bawah gedung, meski harus berjingkat untuk
mendongakkan kepalanya di tembok pembatas. Wajahnya memucat melihat keadaan di
bawah gedung. “Di sini tinggi sekali. Kau tahu—aku sering mabuk ketinggian.”
“Fobia
ketinggian, ya?” tanya Mayu sambil tertawa. “Kalau tak salah, itu disebut acrophobia.”
Shiemi
mengangguk.
“Haaah,
Shiemi.” Mayu memuntir-muntir ujung rambutnya yang panjang. “Menyenangkan
bukan, jika kita bisa melompat ke bawah sana, terjun dengan bebas tanpa ada
hambatan sekali pun,” ujarnya, membuat Shiemi menelan ludah.
“Itu
mengerikan,” balasnya. “Mungkin, sama dengan bunuh diri.”
Saat
itu juga, Mayu tersenyum.
***
Shiemi
kaget dengan apa yang barusan dipikirkanya. Apa mungkin itu kuncinya. Kata-kata
yang diucapkan Mayu ketika mereka naik ke puncak gedung sekolah dua hari yang
lalu. Itu—
Menyenangkan bukan, jika kita bisa
melompat ke bawah sana, terjun dengan bebas tanpa ada hambatan sekali pun.
Mata
Shiemi membelalak. Jangan-jangan, itu maksudnya—
“Mayu
ingin bunuh diri?” rutuknya dengan pandangan heran. Direbahkan tubuhnya di atas
kasurnya yang empuk. “Dia loncat dari atas sana—bunuh diri. Apa itu mungkin,
ah. Bisa jadi.”
Shiemi
bangkit kembali, menggebrak meja. “Hilangkan pikiran aneh itu, Shiemi,”
gumamnya. “Mayu enggak mungkin melakukan hal itu.” Shiemi merutuk dalam hati.
Teringat kembali akan hal-hal menyenangkan yang dilakukannya bersama Mayu.
***
“Hei,
Shiemi!” Sebuah kertas jatuh menimpuk kepala Shiemi. Serta merta gadis itu
bangkit dari duduknya. Dilihatnya Mayu yang tersenyum usil ke arahnya. “Ke
toilet, yuk,” ajak Mayu sedikit berbisik, suaranya masih terdengar walau dia
duduk di bangku paling depan.
“Untuk
apa?” Shiemi berdiri dan menyondongkan tubuhnya, posisinya yang berada di
bangku paling belakang menyulitkannya untuk memandang langsung wajah Mayu.
“Aku
ingin bicara denganmu!” Mayu mengisyaratkan untuk segera keluar. Shiemi
mengangguk mantap. Dia berjalan menuju pintu kelas, membukanya dan langsung
berlari keluar. Mayu mengikuti dengan tenang di belakangnya.
Mereka
sampai di toilet. Shiemi berhenti, berbalik, lalu memandang Mayu dengan heran.
“Mengapa kau terlihat tenang sekali?”
“Memangnya
kenapa?” Pertanyaan Shiemi malah dibalas dengan tatapan heran Mayu.
“Kau
harusnya lebih cepat. Bisa saja ketahuan guru.”
Mayu tertawa dengan suara tawanya yang liar. “Ha-ha-ha.
Gadis Kecil, buat apa aku takut akan hal itu? Santai saja. Terburu-buru itu
tidak baik.”
Shiemi
memandang Mayu dengan tatapan aneh. “Baiklah,” katanya sok-mengerti. “Sekarang,
apa yang ingin kau bicarakan?”
“Hmmm,
sebenarnya ini cukup sulit bagiku, karena aku tidak pernah melakukannya.” Mayu
menggaruk-garuk kepalanya—kebiasaan yang tak dapat dihentikannya sejak kecil.
“Um. Sebenarnya aku hanya ingin bertanya. Maukah kau menjadi sahabatku?
Yah—Kupikir, kau teman yang baik.”
Shiemi
mengangguk setuju. “Tentu saja. Itu kabar baik.”
“Mengapa?”
“Kalau
punya banyak sahabat, senang-lah.” Shiemi mengajak Mayu masuk kembali ke dalam
kelas. Mereka mengendap-endap, lalu duduk kembali di bangku masing-masing.
Shiemi akan selalu mengingat hal itu. Pertama kalinya ia bersahabat dengan
Mayu, dan untuk pertama kalinya juga ia kabur saat pelajaran.