01. Heart. ON Monday, December 31, 2012 AT 5:47 PM
Mulai hari itu, Emily selalu meminta Allison untuk menanyakan sesuatu kepada lelaki berbaju merah. Allison mau-mau saja, meski diam-diam ia tidak benar-benar menyampaikan pesan itu. Allison benar-benar berubah, dan dia mengatakan sesuatu yang sangat menyakiti hati Emily.
"Pagii, Em!" Allison menyeringai.
"Eh, pagi," balas Emily singkat.
"Kau tahu?" Allison meletakkan telunjuknya di mulut. "Kemarin aku mengobrol lagi dengan lelaki itu .."
"Aku harap mulai sekarang kita memanggilnya dengan sebuah nama samaran," usul Emily. "Lelaki berbaju merah terlampau panjang. Kau tahu itu." Dia melipat tangannya di dada. Allison hanya menganggukkan kepalanya, tanda bahwa ia menyetujui usulan Emily.
"Kita panggil saja dia, Russen!" ujar Allison dan Emily sangat setuju. "Kemarin aku bertanya pada Russen, 'apakah aku ini baik? Menurutmu aku orangnya seperti apa?'. Lalu, Russen menjawab begini ...."
Jantung Emily seakan berhenti berdetak selama sedetik. Keringat sebiji jagung menetes dari pelipisnya, rasa iri mulai berkecamuk di dalam hatinya. Emily heran. Mengapa sahabatnya itu
tega sekali mengatakan hal itu padanya.
Apakah dia tidak tahu kalau aku sedih mendengar perkataannya? Apakah dia tidak tahu bahwa dia membuatku cemburu. Perkataannya barusan ..
"Lalu, Russen bilang bahwa aku orangnya seru dan menyenangkan, perhatian .."
Deg.
"Tapi maaf, ya, Emily," ujar Allison. Dia menepuk bahu Emily. "Sebenarnya aku mulai menyukainya, setelah kami sering mengobrol bersama. Habis, dia bilang aku orangnya seru, perhatian. Aku senang sekali. Aku tidak tahu kenapa, tapi kamu tidak marah, kan."
Emily terdiam. "Tidak apa-apa," jawabnya dengan tatapan kosong. Padahal hatinya terasa sangat hancur.
Kenapa harus ada Allison di dunia ini.
Bruk.
Seseorang menutup pintu kelas. Allison dan Emily menoleh. Ternyata Vivian dan Catherine masuk ke dalam kelas, dan
seseorang lagi yang berjalan tepat di belakang mereka. Emily langung memalingkan wajah melihat kehadiran orang itu. Russen, alias Si Baju Merah. Dia duduk di bangkunya yang berada tak jauh dari bangku Emily, membuka-buka sebuah majalah.
"Kau ini ada-ada saja!" Vivian duduk di bangku sebelah Emily. Catherine mengikutinya. "Aku tidak mau pergi jika harus mampir ke rumahmu terlebih dahulu!" serunya, menuding Catherine dengan tatapan kesal.
"Memangnya kenapa? Harusnya kau menuruti perintahku, kau kan sahabatku," balas Catherine tidak kalah kesal. Sepertinya mereka meributkan sesuatu. Allison yang tidak menyukai pertengkaran langsung angkat bicara.
"Sudahlah. Sebaiknya kalian tenangkan diri di kantin saja!" Allison mendorong punggung Vivian dan Catherine. "Aku akan ikut kalian. Kelihatannya Emily sedang bersedih, tidak bagus kalau kalian bertengkar di depannya." Dia memandang Emily yang duduk dengan tenang di bangkunya, lalu berjalan keluar kelas bersama Vivian dan Catherine.
Dan tinggallah seorang Emily di kelas yang sunyi. Hanya berdua. Bersama seorang lelaki yang sedang membaca majalah dengan tenang. Emily terus saja menatap lelaki itu. Dia memerhatikan tubuhnya.
Lelaki itu sangat pendek, pikirnya.
Tubuhku jauh lebih tinggi dibanding dia. Mungkin selisih dua puluh senti. Emily kembali menatapnya. Lelaki itu bertubuh mungil. Imut sekali. Ia memandangi wajahnya lamat-lamat. Matanya ...
Ah.
Matanya memandang ke arah Emily. Emily terentak kaget dan langsung bangkit dari duduknya, berlari keluar kelas. Tanpa disadarinya, lelaki itu tadi menoleh ke arahnya.
Udah, bersambung aja ya -.- Ikhlas kan?