01-Mayu. ON Saturday, February 16, 2013 AT 1:03 AM
“A—Apa?”
Detak jantung Shiemi serasa berhenti selama sedetik. “Tolong—Ulangi sekali
lagi.” Digenggamnya tangan kakaknya yang terus menariknya, membawanya keluar
dari keramaian orang-orang yang berlalu-lalang di tengah pasar.
“Kubilang,
Mayu meninggal. Apa kau tidak dengar?” Suara lawan bicara Shiemi—Mai—di
telepon, terdengar samar. “Halo, Shiemi?
Kau masih di sana?”
Shiemi
terus berjalan, tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Masa, sih. Enggak mungkin, enggak mungkin.
Dua hari yang lalu dia sehat-sehat saja, batin Shiemi dengan panik.
“Shiemi ..?”
“Ah,
iya,” ujar Shiemi—kembali berfokus pada omongan Mai. “Aku masih di sini.”
“Baguslah. Kemarin, Mayu ditemukan di
lapangan. Mengerikan!” ujar Mai panas. “Katanya,
dia jatuh dari atas gedung sekolah. Yah, begitulah apa yang kudengar. Sebaiknya
kau segera kembali ke sekolah.”
Dan
yang didapat Shiemi hanya pandangan kosong. Dia dan kakaknya berjalan mencapai
lapangan parkir. Shiemi membuka pintu mobil pelan, lalu masuk dan menyandarkan
tubuhnya di bangku mobil. Mengambil nafas dalam, dan membuangnya. Diingatnya
suatu hal yang dilakukan Mayu dua hari yang lalu. Pikiran itu terus berputar
dalam benaknya. Mayu, Mayu dan Mayu.
Apakah ini kenyataan? Pikir Shiemi. Tidak! Ini pasti mimpi.
Enggak
mungkin Mayu meninggal.
***
Dua hari sebelumnya.
“Kau
tahu, Shiemi?” Mayu membuka jendela gudang,
menaiki kursi dan keluar melalui jendela. “Di sini, pemandangannya
sangat indah.” Dia membantu Shiemi melompati jendela.
Shiemi
memandang sekelilingnya dengan wajah kagum. “Wow. Aku baru menyadari kalau ada
tempat seperti ini di gedung sekolah.”
Mayu
tersenyum usil. “Kurasa ini bekas lapangan basket. Satu-satunya akses menuju
tempat ini hanya melalui jendela gudang.” Ditunjuknya sekeliling. Sebuah
lapangan luas di puncak gedung sekolah mereka.
“Bukankah
ini lantai lima?” Shiemi menatap ke bawah gedung, meski harus berjingkat untuk
mendongakkan kepalanya di tembok pembatas. Wajahnya memucat melihat keadaan di
bawah gedung. “Di sini tinggi sekali. Kau tahu—aku sering mabuk ketinggian.”
“Fobia
ketinggian, ya?” tanya Mayu sambil tertawa. “Kalau tak salah, itu disebut acrophobia.”
Shiemi
mengangguk.
“Haaah,
Shiemi.” Mayu memuntir-muntir ujung rambutnya yang panjang. “Menyenangkan
bukan, jika kita bisa melompat ke bawah sana, terjun dengan bebas tanpa ada
hambatan sekali pun,” ujarnya, membuat Shiemi menelan ludah.
“Itu
mengerikan,” balasnya. “Mungkin, sama dengan bunuh diri.”
Saat
itu juga, Mayu tersenyum.
***
Shiemi
kaget dengan apa yang barusan dipikirkanya. Apa mungkin itu kuncinya. Kata-kata
yang diucapkan Mayu ketika mereka naik ke puncak gedung sekolah dua hari yang
lalu. Itu—
Menyenangkan bukan, jika kita bisa
melompat ke bawah sana, terjun dengan bebas tanpa ada hambatan sekali pun.
Mata
Shiemi membelalak. Jangan-jangan, itu maksudnya—
“Mayu
ingin bunuh diri?” rutuknya dengan pandangan heran. Direbahkan tubuhnya di atas
kasurnya yang empuk. “Dia loncat dari atas sana—bunuh diri. Apa itu mungkin,
ah. Bisa jadi.”
Shiemi
bangkit kembali, menggebrak meja. “Hilangkan pikiran aneh itu, Shiemi,”
gumamnya. “Mayu enggak mungkin melakukan hal itu.” Shiemi merutuk dalam hati.
Teringat kembali akan hal-hal menyenangkan yang dilakukannya bersama Mayu.
***
“Hei,
Shiemi!” Sebuah kertas jatuh menimpuk kepala Shiemi. Serta merta gadis itu
bangkit dari duduknya. Dilihatnya Mayu yang tersenyum usil ke arahnya. “Ke
toilet, yuk,” ajak Mayu sedikit berbisik, suaranya masih terdengar walau dia
duduk di bangku paling depan.
“Untuk
apa?” Shiemi berdiri dan menyondongkan tubuhnya, posisinya yang berada di
bangku paling belakang menyulitkannya untuk memandang langsung wajah Mayu.
“Aku
ingin bicara denganmu!” Mayu mengisyaratkan untuk segera keluar. Shiemi
mengangguk mantap. Dia berjalan menuju pintu kelas, membukanya dan langsung
berlari keluar. Mayu mengikuti dengan tenang di belakangnya.
Mereka
sampai di toilet. Shiemi berhenti, berbalik, lalu memandang Mayu dengan heran.
“Mengapa kau terlihat tenang sekali?”
“Memangnya
kenapa?” Pertanyaan Shiemi malah dibalas dengan tatapan heran Mayu.
“Kau
harusnya lebih cepat. Bisa saja ketahuan guru.”
Mayu tertawa dengan suara tawanya yang liar. “Ha-ha-ha.
Gadis Kecil, buat apa aku takut akan hal itu? Santai saja. Terburu-buru itu
tidak baik.”
Shiemi
memandang Mayu dengan tatapan aneh. “Baiklah,” katanya sok-mengerti. “Sekarang,
apa yang ingin kau bicarakan?”
“Hmmm,
sebenarnya ini cukup sulit bagiku, karena aku tidak pernah melakukannya.” Mayu
menggaruk-garuk kepalanya—kebiasaan yang tak dapat dihentikannya sejak kecil.
“Um. Sebenarnya aku hanya ingin bertanya. Maukah kau menjadi sahabatku?
Yah—Kupikir, kau teman yang baik.”
Shiemi
mengangguk setuju. “Tentu saja. Itu kabar baik.”
“Mengapa?”
“Kalau
punya banyak sahabat, senang-lah.” Shiemi mengajak Mayu masuk kembali ke dalam
kelas. Mereka mengendap-endap, lalu duduk kembali di bangku masing-masing.
Shiemi akan selalu mengingat hal itu. Pertama kalinya ia bersahabat dengan
Mayu, dan untuk pertama kalinya juga ia kabur saat pelajaran.